Camping di Pulau Opak, Kepulauan Seribu

Camping di Pulau Opak, Kepulauan Seribu

Saya dulu mikir camping ke pulau itu pasti makan biaya yang ga sedikit dan repot. Nyewa kapal, tenda, mobil, bla bla bla. Tapi kata teman saya si Putri, ternyata nggak juga, asal kita pintar-pintar ngatur budget. Akhirnya waktu diajakin buat ngabisin long weekend ke pulau, diiming-imingi biaya minim dan ga perlu repot ngurus segala macam persiapannya saya pun kepincut.

Setelah berunding kami memutuskan buat pergi ke pulau Opak. Pulau opak merupakan salah satu pulau tak berpenghuni dari gugusan kepulauan Seribu. Karena letaknya yang memang ga begitu jauh dari Bekasi, Pulau Opak sempurna sebagai destinasi liburan kami kali ini.

Kumpul di Stasiun

Photo by William Manuel on Unsplash

Sepulang kerja di hari-H saya langsung packing. Barang yang di bawa ga terlalu banyak karena saya hanya perlu membawa keperluan pribadi yang sebelumnya sudah di-list oleh Putri. Dengan menyiapkan budget yang juga ga sampai Rp300.000, saya pun siap untuk jalan-jalan.

Itulah enaknya berteman sama geng travel backpacker-an. Jadi kalau mau liburan kemana-mana bisa murah dan ga ribet.

Saya pergi dengan sembilan orang lainnya. Beberapa memang teman saya, beberapa lagi baru pernah ketemu sekali sebelumnya, sisanya saya ga kenal sama sekali. Seperti perjanjian di awal, tenda, nesting, hamock, sleeping bag, konsumsi, sampai gitar semuanya sudah disiapkan.

Karena kapal yang akan kami naiki dari pelabuhan Muara Angke berangkat sekitar jam sembilan pagi, kami harus sudah ada disana subuh-subuh buat booking kursi biar ga kehabisan tempat. Soalnya di hari long weekend seperti itu katanya memang banyak penumpang. Jadi kami memutuskan buat berangkat dari Bekasi malam sebelumnya.

Kami naik commuter line keberangkatan terakhir dari Bekasi ke Jakarta Kota pukul 10.30 pm. Gerbong yang kami naiki lumayan sepi karena memang sudah sangat malam. Hanya ada beberapa orang lainnya selain rombongan kami.

Kemudian turun dari kereta dilanjutkan dengan naik angkot sewaan. Setelah proses tawar menawar yang membuahkan hasil manis akhirnya berangkatlah kami ke tujuan pertama pelabuhan Kaliadem, Muara Angke.

Ngegembel di Muara Angke

Photo by backpackerjakarta.com

Sampai di Muara Angke malam sudah terlanjur larut. Kami langsung mencari spot lantai yang paling nyaman buat tidur sebentar di dalam bangunan Dinas Perhubungan Muara Angke. Syukurlah selain kami, ternyata ada rombongan lainnya yang juga menginap disana jadi kondisi kami ga terlihat melas-melasin banget.

Pagi-pagi buta kami sudah bangun lalu bergiliran mandi karena ini merupakan kesempatan terakhir kami bertemu air tawar sebelum berangkat ke pulau Opak.

Dijemur di Atas Kapal

Setelah sholat Subuh dan sarapan di warung dekat situ, kami naik kapal sekitar pukul enam pagi. Begitu naik, saya langsung mengincar tempat strategis di geladak kapal. Dua jam kemudian setelah semua penumpang memakai pelampung dan petugas pelabuhan selesai melakukan pengecekan kapasitas kapal, barulah kapal kami berangkat.

Photo by tehIndah
Photo by tehIndah

Pemandangan yang saya dapat memang luar biasa, biru bertemu biru di sepanjang mata memandang. Tapi ternyata teriknya matahari juga luar biasa terasa. Apalah daya saya yang terbiasa bekerja di ruangan ber-AC. Untungnya kami sudah memakai sunscreen sebelum berangkat tadi.

Jadi, kalau kamu berencana untuk liburan ke pantai atau pulau, sebaiknya jangan sampai lupa bawa sunscreen ya. Biar waktu pulang kamu ga berubah jadi gosong dan ga bisa dikenali lagi.

Transit di Pulau Harapan

Photo by tehIndah

Karena memang ga ada kapal yang langsung menuju pulau Opak, dari Muara Angke kami harus transit di pulau Harapan. Dari situ baru naik kapal sewaan ke pulau Opak. Perjalanan dari pelabuhan Kaliadem ke pulau Harapan memakan waktu sekitar tiga jam perjalanan.

Sesampainya di pulau Harapan hari sudah siang, kami sholat dzuhur dan jajan-jajan dulu sambil nungguin bapak yang punya perahu sewaan datang.

Setelah si bapak datang saya pikir dari situ kami langsung berangkat ke pulau Opak, tapi ternyata perahu si bapak diparkir di sisi lain pulau. Jadi kami harus berjalan ke kapal terlebih dahulu. Ditemani oleh pemandangan khas daerah pulau, pohon bakau yang berjejer di sepanjang sisi kanan-kiri jalan, serta pasir bercampurkan kulit kerang dan karang di bawah kaki kami.

Sampai di Pulau Opak

Photo by tehIndah

Setelah tambah tiga puluh menit lagi perjalanan mengarungi lautan sampailah kami di pulau Opak. Karena memang ga ada siapa-siapa di sini selain monyet penghuni pulau, rasanya seperti punya pulau pribadi. Tapi meskipun memang ga ada orang lain disitu, bukan berarti kamu boleh berbuat semena-mena dan merusak alam ya.

Kami langsung beres-beres mendirikan tenda, pasang hamock, dan ngumpulin kayu bakar persediaan malam hari. Barulah saat udara sudah ga terlalu panas lagi kami snorkeling sambil mancing ikan di sekitar pulau, lumayan buat nambah-nambah lauk “dinner” nanti.

Setiap pergi jangan lupa untuk mengamankan barang-barang bawaan dalam tenda. Karena di pulau ini banyak monyet yang berkeliaran.

Habis pulang dari mainan air kami langsung membersihkan badan sekenanya, maklum ngirit air tawar. Lalu masak nasi dan ikan hasil pancingan tadi, dilanjutkan dengan makan malam.

Malam di Pulau Tak Berpenghuni

Beres membuat api unggun kami berkumpul. Sekarang saya lumayan mengenal rekan seperjalanan yang tadinya ga terlalu saya kenal. Dari anak Betawi asli sampai anak rantauan dari pulau Nias, ternyata terlepas dari latar belakang yang berbeda-beda, mereka semua lucu dan asik diajak ngobrol. Dengan cepat saya pun bisa beradaptasi dengan mereka.

Sambil mengelilingi api unggun kami menghabiskan malam dengan cerita-cerita horor, truth or dare, main uno, curhat, dan ga lupa nyanyi sambil main gitar.

Waktu kebanyakan orang sudah tidur, baru terasa betapa sepinya pulau ga berpenghuni ini. Lalu tiba-tiba ada suara dari luar tenda. Karena penasaran saya ngintip keluar. Ternyata ada yang masih kelaparan dan diam-diam lagi bikin indomie. Pastinya saya ga mau ketinggalan dong, hihi. Lumayan buat ganjal perut sampai pagi.

Photo by tehIndah

Laut di malam hari terlihat sangat tenang. Beribu bintang pun terlihat sangat jelas dari sini, karena ga ada polusi cahaya. Saya bersyukur kemaren telah setuju untuk ikut trip ke pulau Opak sehingga bisa menikmati suasana itu.

Akan tetapi karena sedang pasang, air pantai sedikit naik ke daratan. Syukurlah kami memasang tenda jauh ke atas jadi ga terbawa arus air sewaktu tidur.

Hari Terakhir

Photo by tehIndah

Esoknya kami bangun pagi-pagi sekali untuk menyaksikan matahari terbit. Dilanjutkan sesi foto bersama-sama.

Setelah puas mengambil foto untuk dokumentasi kami menyiapkan makan besar. Karena ini makan terakhir sebelum pulang kami harus menghabiskan semua bahan makanan yang dibawa. Beralaskan daun-daun dari pohon di pinggir pantai kami pun sarapan sekaligus makan siang.

Photo by tehIndah

Pukul sembilan kami mulai melipat tenda dan membereskan semua peralatan. Sambil menunggu kapal yang menjemput datang, kami mengumpulkan semua sampah-sampah bekas berkemah yang ada di sekitar pulau untuk dibuang sesampainya nanti di daratan.

Rasanya masih betah berlama-lama di pulau, tapi sisa liburan sudah mau berakhir dan saya mulai rindu air tawar. Berakhir sudah perjalanan tak terlupakan kami ke pulau Opak selama dua hari satu malam. Kami pun kembali ke Bekasi dengan badan yang rasanya capek luar biasa tapi hati senang penuh kenangan.

Leave a Comment