Tempat-Tempat yang Kamu Lewati Kalo Keliling Bandung Naik Bandros

Udah pada tau bandros belum? Salah satu kue tradisional Jawa Barat dari campuran tepung beras dan kelapa yang rasanya gurih-asin-manis itu loh. Kalau masih belum, mending kamu cobain deh. Soalnya rasanya emang nagih banget. Apalagi dimakan hangat-hangat sambil minum kopi pas cuaca di luar lagi hujan. Beuh..

Bandros sekarang punya kembaran dari species berbeda nih, kembarannya bukan sesama kue melainkan bus.

Apa Sih Bandros itu?

Jadi di Bandung itu ada bus pariwisata yang namanya ‘Bandung Tour On The Bus’, biasa disingkat Bandros. Bus ini merupakan salah satu programnya Kang Emil, Mantan Walikota Bandung yang sekarang menjabat jadi Gubenur Jawa Barat. Tujuannya itu untuk mendongkrak pariwisata Kota Bandung.

Dulu sih katanya Bandros itu merupakan bus bertingkat. Mirip-mirip sama bus double-decker punya London gitu deh. Tapi sekarang sudah tidak lagi, berkaitan dengan adanya kejadian pada tanggal 28 Oktober 2015, dimana seorang mahasiswa asal Universitas Parahyangan Bandung yang sedang mengambil foto selfie terjatuh dari lantai dua Bus Bandros. Hal ini terjadi karena yang bersangkutan tidak mengindahkan peringatan tour guide untuk menunduk saat ada kabel melintang di atas jalan Watukencana. Akhirnya untuk alasan keamanan, sayangnya sekarang bus Bandros tak lagi berlantai dua.

Cara Naik Bandros

Photo by wiranurmansyah.com

Terakhir kali ke Bandung Alhamdulillah saya menyempatkan diri nyobain keliling-keliling Bandung naik Bandros. Ada tiga terminal dimana kita bisa mulai naik Bandros, yaitu dari sebrang Museum Geologi, Taman Balai Kota Bandung, serta Alun-alun kota Bandung. Saya memilih buat naik dari Taman Balai Kota , biar bisa cuci mata sambil nungguin antrian.

Oh iya, Bus Bandros ini peminatnya banyak banget loh. Apalagi kalo kamu naiknya di hari weekend atau libur nasional. Sudah bisa dipastiin kamu bakalan ngantri, bahkan bisa sampai berjam-jam. Jadi buat ngurangin prospek ngantri, lebih baik kamu datengnya pagi-pagi ya. Biasanya Bandros udah mulai beroperasi dari jam sembilan pagi kok. Baru tutup di jam empat sore.

Sebelum naik, kita mesti daftar dulu sama petugas yang biasanya ada disekitar terminal Bandros buat pesan kursi. Kalau udah tiba saatnya antrian kita, nanti kita dipangggil buat naik busnya, baru bayar tiket di tempat.

Harga tiketnya ga mahal kok cuman Rp.20.000 aja kita udah bisa keliling kota Bandung sambil ditemenin tour guide yang ngejelasin seluk-beluk tempat-tempat bersejarah, spot-spot nongkrong potensial, dan tempat jual makanan dari yang kaki lima sampai restoran keluarga yang memang terkenal enak di sepanjang jalanan Bandung yang kita lewati. Jadi buat turis-turis asal luar Bandung seperti saya bisa dapet pencerahan, dimana aja nih tempat-tempat keren yang mesti dikunjungi di kota bercuaca dingin ini.

Selama perjalanan dengan Bandros ini, ada beberapa tempat yang benar-benar membekas di hati saya yang bakal saya bahas di bawah ini.

Titik Nol Kilometer Bandung

Photo by tehindah.com

Mitosnya nih menurut mba tour guide, siapa yang menginjakkan kaki di titik ini  saat suatu saat pasti bakal kembali lagi ke Bandung. Hmm.. boleh dicoba ya.

Titik Nol Kilometer Bandung ini konon merupakan tempat dimana Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, menancapkan tongkatnya dan mengatakan pada Bupati Wiranatakusumah II “Zorg, dat als ik terug kom hier een staad is gebouwd,” yang kira-kira sih terjemahannya “Usahakan, jika aku kembali ke sini, di daerah ini telah dibangun sebuah kota”.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi tonggak sejarah berdirinya Kota Bandung, Karena kemudian pada tanggal 25 September 1810, Bupati Wiranatakusumah II mendapat surat perintah untuk memindahkan pusat pemerintahan ke tempat dimana Daendels menancapkan tongkatnya waktu itu.

Lokasinya ada di jalan Asia Afrika, pas depan kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat. Di tugu nol kilometer ini terdapat replika wajah dari Daendels, Bupati Wiranatakusumah, Soekarno, dan Gubernur Jawa Barat pada tahun 1945, Mas Soetardjo Kertohadikusumo.

Masih ingat ga pelajaran sejarah tentang kerja paksa membangun Jalan Raya Pos dari Anyer sampai Panarukan, yang panjangnya sampai 1000km? Katanya nih tugu ini didedikasikan buat ribuan orang yang jadi korban kerja paksa di kala itu.

Mural Quotes

Photo by tehindah

Kota Bandung memang terkenal dengan bermacam mural yang kreatif, salah satunya yaitu yang saya lewati di jalan Asia Afrika ini. Mural ini temanya tentang para penulis yang menggambarkan kota Bandung dalam rangkaian kata-kata mereka sendiri.

Di satu sisi ada kutipan yang berasal dari M.A.W Brouwer, seorang psikolog dan budayawan warga negara Belanda yang lama tinggal di Bandung, “Bumi Pasundan Lahir Ketika Tuhan Sedang Tersenyum”.

Konon katanya M.A.W Brouwer ini pernah mengajukan permohonan menjadi WNI, namun ditolak hingga akhir hayatnya.

Sedangkan di sisi sebrang ada kutipan dari penulis buku series fenomenal Dilan, Pidi Baiq yang bunyinya, “Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”

Hantu Asia-Afrika

Photo by Tribunnews.com

Kalau kamu lagi asyik-asyiknya menikmati view jalanan kota Bandung terus tiba-tiba ada sundel bolong yang nyolek jangan kaget ya. Karena makhluk-makhluk halus itu memang banyak gentayangan di Jl. Asia Afrika, dekat dengan Gedung Merdeka Bandung.

Tapi ga usah takut, hantunya cuman hantu bohongan kok. Aslinya mereka adalah sekumpulan anak muda Bandung yang ikutan Komunitas Manusia Hantu. Mereka ini punya hobi untuk memakai kostum unik dan berdandan seram seperti hantu. Dari hantu import seperti Valak dan vampir sampai paket lengkap hantu produk lokal seperti kuntilanak, suster ngesot, sundel bolong, jenglot, pocong, wewe gombel, Mak Lampir dan lain-lain semua ada disini.

Banyak loh pengguna kendaraan yang sengaja berhenti untuk berfoto bersama mereka. Hmm, hantu aja punya fans, lah saya?

Sel No.5 Penjara Banceuy

Photo by meinherbuitenzorg.blogspot.com

Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno, pernah mendekam disini selama 8 bulan karena tuduhan pemberontakan pada masa kedudukan Pemerintah Belanda. Selama masa penahanannya Bung Karno menyusun Pledoi (pidato pembelaan) berjudul Indonesie Klaagt Aan yang artinya ‘Indonesia Menggugat’.

Pledoi ini dibacakan pada sidang Pengadilan Hindia Belanda di Gedung Landraad (kini Gedung Indonesia Menggugat) dan kemudian menjadi terkenal.

Di kemudian hari penjara Banceuy ini dipindahkan ke Jl.Soekarno-Hatta, Bandung. Bangunan lamanya dibongkar untuk didirikan kompleks pertokoan Banceuy Permai. Hanya menyisakan sel no. 5 tempat dimana Bung Karno dulu ditahan serta salah satu bagian menara menara pos penjaga.

Kemudian dibangunlah sebuah tugu sebagai penanda yang diberi nama Monumen Banceuy. Monumen ini berupa patung Bung Karno yang sedang membaca buku, kegiatan sehari-hari beliau saat berada dalam tahanan penjara Banceuy Sayangnya kalau hanya dilihat dari jalan sel dan monumen ini tidak terlihat terlalu jelas.

Jalan Braga yang Penuh Pesona

Photo by Ali Yahya on Unsplash

Salah satu jalan tertua di kota kembang ini memang punya banyak karisma. Dengan perpaduan ciamik antara bangunan modern dan klasik yang bertemakan eropa zaman dulu, dihiasi dengan pelapak lukisan yang berjajar di sepanjang jalan, semakin menambah nilai artistik wisata kota tua di Bandung yang satu ini. Pokoknya kalau jalan-jalan ke Bandung, jalan kaki di sepanjang jalan Braga itu hukumnya musti kudu wajib ya.

Bagaimana, kamu tertarik buat keliling kota Bandung naik Bandros?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *