Nikmati Suasana Tempo Dulu di Jalan Braga Bandung

Nikmati Suasana Tempo Dulu di Jalan Braga Bandung

Jalan-jalan di kota Bandung tak melulu soal panorama alamnya saja. Misalnya di sepanjang Jalan Braga, salah satu jalan primadona di Kota Bandung yang menyimpan pesona klasik Eropa zaman dulu. Konon katanya kawasan yang merupakan ikon Paris van Java ini bahkan sudah terkenal sejak masa penjajahan Belanda.

Di sebelah kanan dan kiri jalan Braga bertebaran bangunan-bangunan bergaya kolonial yang masih dipertahankan dan terawat dengan baik sampai saat ini. Meskipun ada juga yang sudah dipugar menjadi bangunan modern, atau bangunan aslinya tertutup oleh papan reklame besar. Namun di beberapa tempat masih tersisa wajah-wajah lama yang antik dan khas, sehingga kita bisa merasakan atmosfer nostalgia Bandoeng tempo doeloe.

Daya Tarik Jalan Braga

📷 instagram @bsetiadi5

Untuk dapat menikmati keindahan jalan ini sebetulnya kita tidak membutuhkan kendaraan, karena panjang jalannya cuma sekitar 800 km. tehIndah lebih merekomendasikan kamu untuk menyusuri Jalan Braga dengan cara berjalan kaki. Sehingga banyak hal menarik yang bisa dilihat berlama-lama.

Rute jalan ini memanjang lurus mulai dari Jalan Asia Afrika hingga perempatan Jalan Wastukencana. Jalannya sendiri dibuat dari batu andesit, sedangkan kedua sisi trotoarnya terbuat dari material batu granit. Beberapa pelukis duduk di sebelah lapak mereka masing-masing, menjajakan beragam lukisan berwarna-warni di trotoar yang semakin menambah semaraknya suasana.

📷 instagram @iqbaltaukan

Para pejalan kaki yang menyukai lukisan tersebut menanyakan harganya untuk kemudian dibeli, ada juga yang hanya sekedar melihat-lihat. Tak sedikit orang yang melintas menganggap pemandangan lukisan yang berjejer ini unik dan menarik serta menjadikannya sebagai objek foto.

Ada juga toko-toko buku tua yang masih bertahan, disini kadang kita bisa menemukan buku-buku lama yang sudah tak dicetak ulang lagi. Beberapa toko barang antik pun masih bisa kita jumpai. Selain itu di kawasan ini banyak juga destinasi wisata kuliner seperti restoran dan kafe yang menampilkan live music. Bahkan ada juga pusat perbelanjaan yang bangunannya merupakan peninggalan kolonial belanda.

Di sini sering diadakan berbagai event menarik seperti Braga Festival yang diselenggarakan setiap tahun dan Braga Culinary Night yang diadakan dua minggu sekali setiap malam Minggu.

Lokasinya yang sangat strategis, yaitu di pusat kota Bandung membuat daerah ini tak pernah sepi pengunjung. Melintasi Jalan Braga di tengah hiruk pikuknya Kota Bandung memang tak pernah bikin bosan. Di samping menawarkan pesona keindahan, tempat ini menyimpan sudut-sudut cantik  tempat bersejarah peninggalan masa lalu yang berpotensi untuk wisata budaya. Sangat sayang bila dilewatkan begitu saja.

Sekilas Sejarah Jalan Braga

📷 from unsplash

Awalnya Braga dikenal dengan nama Karrenweg atau masyarakat lokal menyebutnya Pedatiweg. Saat itu Braga merupakan seruas jalan pedati yang sempit dan berlumpur. Berlokasi di sebuah kawasan yang cukup sunyi dan rawan terjadi penculikan, sehingga terkenal juga dengan julukan Jalan Culik.

Jalan ini dulu menghubungkan gudang kopi milik orang Belanda, Andries de Wilde, (sekarang berlokasi di Balai Kota Bandung) dengan Jalan Raya Pos (sekarang Jalan Asia Afrika).

Pada tahun 1882, Asisten Residence Bandung, Pieter Sitjhoff, mengubah nama jalan tersebut menjadi Bragaweg. Berasal dari bahasa Sunda, ngabaraga, yang artinya bergaya. Kemudian jalannya diperkeras dengan batu kali dan sepanjang jalan dihiasi lampu minyak.

Lalu secara bertahap didirikanlah gedung-gedung baru untuk perkantoran, toko, bar dan tempat hiburan yang dirancang dengan gaya arsitektur yang sedang populer kala itu yaitu Art Deco. Beberapa sengaja dibangun meniru kompleks pertokoan di Paris. Sehingga daerah ini terkenal sebagai “Paris van Java”.

Memasuki tahun 1920-an, kawasan ini sudah ramai dipenuhi dengan pertokoan barang mewah. Braga pun beralih menjadi pusat perbelanjaan elit bagi warga Eropa yang tinggal di sekitar Bandung. Terutama para preangerplanter (pengusaha perkebunan teh) yang datang ke Bandung dengan tujuan berbelanja kebutuhan sehari-hari yang tidak ada di pedalaman sekaligus bersantai dan mencari hiburan untuk menghabiskan akhir pekan.

Saking tersohornya, Jalan Braga kemudian ditetapkan sebagai kawasan belanja paling bergengsi di Hindia Belanda (De meest Europeesche Winkelstraat van Indie). Banyak kalangan atas yang sengaja berkunjung ke sini agar bisa merasakan sensasi Eropa. Jejak kemegahan tersebut masih bisa kita saksikan hingga sekarang.

Sisi buruknya, mulai bermunculan hiburan-hiburan malam dan kawasan kawasan remang-remang di sekitar Braga yang sangat terkenal di kalangan turis. Dari sinilah julukan baru Bandung sebagai “Kota Kembang” mulai dikenal. Masyarakat Bandung yang merasa resah saat itu pun tidak tinggal diam. Mereka kemudian membuat selebaran berisikan pengumuman yang bertuliskan agar “Para Tuan-Tuan Turis sebaiknya tidak mengunjungi Bandung apabila tidak membawa istri atau meninggalkan istri di rumah”.

Gedung-Gedung Bersejarah di Braga

Sejak ditetapkan sebagai De meest Europeesche Winkelstraat van Indie atau kawasan belanja paling bergengsi di Hindia Belanda, Bragaweg mulai dipenuhi oleh bangunan-bangunan megah dan indah karya arsitek terkenal saat itu. Pemerintah Belanda pun mengeluarkan kebijakan baru bahwa semua bangunan toko dibangun dengan arsitektur gaya Eropa.

Sebagian besar bangunan tersebut masih bertahan sampai sekarang dan termasuk dalam daftar cagar budaya yang harus dilindungi. Setiap gedung tua di Braga memiliki sejarahnya masing-masing. Bentuknya tak banyak yang berubah sehingga kita akan disuguhkan oleh suasana tempo dulu. Berikut beberapa tempat menarik yang bisa kamu kunjungi.

1. Gedung De Vries

📷 instagram @chocofreo

Tempat pertama yang harus kamu kunjungi bila menginjakan kaki di Jalan Braga Bandung adalah Gedung De Vries. Didirikan pada akhir abad ke 19 oleh tuan M. Klass de Vries, dulunya gedung ini merupakan toko yang menjual aneka macam kebutuhan sehari-hari.

Hingga dekade pertama abad ke 20, Toko De Vries merupakan toko serba ada yang paling terkenal di kalangan preangerplanters sebagai yang terbesar dan terlengkap di antara toko-toko yang ada di kota Bandung. Bahkan sampai tahun 1902, toko ini adalah satu-satunya toko yang menjual obat-obatan dengan pelanggan utama dokter Schattenker, satu-satunya dokter yang praktek di Bandung pada masa itu.

Toko De Vries awalnya berlokasi di tepi Jalan Raya Pos sebelah utara Alun-alun. Kemudian pindah ke lokasinya saat ini, tepat di mulut jalan Braga sebelah selatan. Bangunannya bergaya arsitektur Oud Indisch Stijl (Klasik Indies), dengan ciri khas berupa tiang-tiang kolom besar.

De Vries kemudian direnovasi pada tahun 1909 dan 1920, dengan perubahan yang dilakukan secara bertahap oleh Arsitek Edward Cuypers Hulswitt. Hasil renovasinya bergaya arsitektur Klasik Eropa dengan menara di pojok utara sisi timur bangunan.

Pernah dipakai sebagai toko pakaian, toko rokok, studio foto, toko mebel, diskotek, dan rumah makan padang hingga disebut Toko Padang. Kemudian di akhir era 1990-an toko ini dibiarkan kosong dan terbengkalai.

Baru pada tahun 2010 gedung ini kembali dipugar oleh arsitek Ir. David Bambang Soediono. Pemugaran ini menggunakan konsep rekonstruksi semi-restorasi untuk mengembalikan tampilan lamanya pada tahun 1955.

Hingga saat ini Gedung De Vries dikelola oleh Bank OCBC NISP.

2. Gedung Merdeka

📷 instagram @antonfase.id

Gedung yang satu ini memang penuh dengan catatan sejarah. Gedung Merdeka merupakan tempat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955. Di tempat inilah, bangsa-bangsa Asia Afrika berikrar dan bersatu melawan kolonialisme.

Gedung yang menghadap ke jalan Asia Afrika ini dibangun pada tahun 1895 dengan nama asli Societeit Concordia. Di tahun 1926 bangunan ini direnovasi seluruhnya oleh tiga arsitek paling berpengaruh di Hindia Belanda saat itu Van Galen Last, Albert Frederik Aalbers, dan C.P. Wolff Schoemaker. Kemudian pada tahun 1954 gedung ini kembali dipugar untuk keperluan Konferensi Asia Afrika.

Sekarang gedung Merdeka dijadikan museum, yaitu Museum Konferensi Asia Afrika (KAA). Dimana tempat ini menyimpan benda, foto, audio, dan visual mengenai perjalanan peristiwa Konferensi Asia Afrika dan terbuka untuk umum.

3. Apotek Kimia Farma

📷 by kimiafarmabandung.co.id

Awalnya bangunan yang dibangun pada 1902 ini merupakan sebuah Bank bernama N.I. Escompto Mij. Di kemudian hari kepemilikannya beralih ke N.V. Chemicalienhandel Rathkamp & Co. yang merupakan cikal bakal perusahaan obat Kimia Farma.

Gedung apotek Kimia Farma termasuk dalam bangunan cagar budaya yang dilindungi. Namun sampai saat ini masih belum diketahui siapa arsitek yang merancangnya.

4. Gedung De Majestic

📷 instagram @galeri_mala

Terletak bersebelahan dengan Museum Konferensi Asia Afrika (KAA), gedung ini didesain oleh guru besar Technische Hogeschool (sekarang ITB), C.P. Wolff Schoemaker dan merupakan bioskop pertama yang ada di Indonesia. Awalnya bangunan ini memiliki nama Concordia Bioscoop, kemudian pada 1937 berganti nama menjadi Majestic Theatre. Bangunannya sekilas mirip dengan kaleng biskuit sehingga dulu gedung Majestic sering disebut blikken trommel atau kaleng timah.

Di atas pintu masuk utamanya terdapat penghias gedung berbentuk Batara Kala dengan ukuran yang cukup besar. Menurut kepercayaan masyarakat lokal, Batara Kala dipercaya sebagai penolak bala serta mengusir pengaruh buruk yang mungkin akan datang.

Pada masa Belanda, bioskop ini terkenal sebagai Bioskop paling elit dan paling eksklusif di Kota Bandung. Hanya orang-orang keturunan Eropa yang boleh masuk. Bahkan terdapat tulisan “Verboden voor honden en inlander” (anjing dan orang pribumi dilarang masuk) di depan pintu masuk ruang pertunjukan. Hal tersebut menunjukkan salah satu bentuk politik apartheid yang terjadi kala itu di kota Bandung.

Pada zamannya, bioskop De Majestic menyajikan orkes mini dengan seorang komentator untuk mengiringi film-film bisu dalam setiap penayangannya. Kini, gedung yang berlokasi di Jalan Braga No 1 telah digunakan sebagai gedung pertunjukan seni dan budaya.

5. Bank BJB

📷 flickr by Triono Rahardjo

Terletak di persimpangan Jalan Braga dan Naripan, gedung ini awalnya dipakai salah satu bank terbesar di Kota Bandung kala itu, De Eerste Nederlands-Indische Spaarkas en Hypotheek Bank (Bank Tabungan Hindia Belanda Pertama) atau disingkat gedung DENIS.

Salah satu pendiri DENIS adalah Ru Bosscha, seorang pengusaha perkebunan teh berkebangsaan Belanda yang dikenal peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi Hindia Belanda pada masa itu.

Gedung Denis dirancang oleh arsitek kenamaan berkebangsaan Belanda, Albert Frederik Aalbers dengan gaya art deco. Gedung utamanya yang dibangun pada tahun 1935, hingga saat ini masih berdiri dalam bentuknya yang asli. Jika diperhatikan, konsep arsitekturnya mirip dengan Hotel Savoy Homann yang juga didesain oleh orang yang sama. Karena kemiripan tersebut, gedung ini juga disebut sebagai kembaran Hotel Savoy Homann.

Bangunan yang beralamat di Jalan Braga No 12 ini, sekarang ditempati oleh Bank BJB, sebuah bank BUMD milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Banten.

Di bagian depannya terdapat stilasi Bandung Lautan Api. Stilasi tersebut merupakan pertanda bahwa di lokasi itu pernah terjadi peristiwa yang berkaitan dengan Bandung Lautan Api. Yaitu peristiwa perobekan bendera triwarna Belanda menjadi bendera Merah Putih yang berlangsung di menara gedung ini sekitar tiga bulan pasca kemerdekaan. Insiden yang membakar semangat para pejuang Bandung untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

6. Gedung Sarinah

📷 siswiyantisugi.com

Kota Bandung, khususnya Jalan Braga dulu merupakan salah satu pusat mode Eropa di Hindia Belanda. Salah satu toko busananya yang paling terkemuka adalah Onderling Belang. Toko pakaian ini dibuka pada awal tahun 1913 sebagai cabang kedua dari Onderling Belang yang berada di Amsterdam. Koleksi pakaian yang dijual di toko ini berkiblat kepada mode yang tengah populer di Belanda, bersaing ketat dengan toko Au Bon Marche di seberang yang gaya pakaiannya lebih condong mengikuti mode Perancis.

Nama Toko Onderling Belang berubah menjadi Toko Sarinah pada tahun 1960-an. Perubahan nama ini terjadi saat era Bung Karno sedang gencar-gencarnya menggalakkan nasionalisasi.

Lama terbengkalai, kemudian pada tahun 2015 gedung ini diratakan dengan tanah untuk pembangunan hotel De Braga By Artotel. Kini meskipun Gedung Sarinah sudah dibangun menjadi hotel 14 lantai, bidang luas pada fasad di bagian depannya tetap dipertahankan sebagai ciri khas bangunan.

Dominasi cat warna putih dan logo Sarinah berkelir merah yang berasal dari tulisan tangan Bung Karno di muka gedung tersebut juga tetap dipelihara sebagai upaya mengembalikan eksistensi era awal Sarinah Braga.

7. LKBN Antara

📷[email protected]_mardiansyah

Gedung Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara ini memiliki ciri khas unik yakni bentuknya melengkung mengikuti kelokan jalan dan dibubuhi cat kuning mentereng. Dirancang oleh Albert Frederik Aalbers pada 1936, dulunya digunakan sebagai kantor Bala Keselamatan atau dalam bahasa Belanda disebut Leger des Heils.

Lantai dasarnya pernah dipakai untuk butik, dan pernah juga menjadi Rumah makan Braga Jaya. Tapi sekarang lantai dasarnya sudah tidak digunakan lagi, di jendelanya bahkan terdapat coretan-coretan cat.

8. Centre Point

📷 flickr by rizal.wicaks

Gedung Centre Point berada tepat di sudut belokan dari Jalan Braga ke Jalan Suniaraja. Bangunan besar dengan tulisan Centre Point berwarna biru di bagian depan ini dibangun pada tahun 1925 dan merupakan hasil rancangan karya C.P. Wolff Schoemaker.

Schoemaker adalah arsitek yang juga merancang Bioskop Majestic, Hotel Preanger, Sociëteit Concordia, Gedung Asia Afrika, Gereja Katedral di Jalan Merdeka, Gereja Bethel di Jalan Wastukencana, Masjid Cipaganti, Villa Isola, dan Gedung PLN Bandung.

Bangunan ini dulunya merupakan toko alat musik Naessens & Co. Diceritakan bahwa pemilik perusahaan, Naessens, merupakan seorang pianis. Selain menjual dan memproduksi piano buatan sendiri, Naessens & Co juga menjual piano–piano dengan merek lain dari Eropa, alat musik petik, drum, gramofon, dan piringan hitam.

Sekarang gedungnya ditempati oleh toko peralatan olahraga yang bernama Centre Point. Di sini kita bisa menemukan merek-merek terkenal seperti Nike, Adidas, Puma, dan lain-lain. Toko ini sempat populer pada tahun 1980-an sebelum mulai bermunculannya mal-mal, dan toko sepatu lainnya.

9. Gedung Landmark

📷 instagram @explorebandung

Gedung rancangan arsitek Belanda, C.P. Wolff Schoemaker ini memadukan gaya arsitektur modern khas Eropa dengan unsur budaya Indonesia. Beliau menerapkan gaya art deco yang tengah tren pada masa itu, serta menyisipkan ornamen ukiran candi dan Batara Kala pada bagian atas pintu masuk bangunan.

Di zaman pendudukan kolonial Belanda, gedung yang bernama Van Dorp ini awalnya merupakan sebuah toko buku dan percetakan yang sangat sukses.  Konon, hasil keuntungan toko ini bisa digunakan untuk membangun 50 vila mewah pada masanya. Setelah bertahan cukup lama, akhirnya toko buku Van Dorp bangkrut dan ditutup pada tahun 1972.

Sempat terbengkalai, gedung Landmark dibiarkan kosong dan tidak digunakan untuk kegiatan apapun. Baru pada awal 1980-an gedung tersebut mulai dipakai lagi. Lantai satunya dialih fungsikan menjadi rumah biliar. Sedangkan di lantai duanya terdapat bioskop POP, menambah daftar jejeran bioskop yang berada di kawasan Braga, seperti Braga Sky dan Presiden Theater.

Kini gedung yang beralamat di Jalan Braga No. 129 ini menjadi gedung serba guna yang bernama Landmark Convention Hall, dan kerap digunakan untuk menggelar event kontemporer seperti pameran buku dan komputer dalam setiap minggunya. Dan lantai bagian atasnya digunakan untuk diskotik.

Kuliner di Jalan Braga Bandung

Setelah menelusuri gedung-gedung bersejarah, tak komplit rasanya bila langsung pergi tanpa mencicipi wisata kuliner khas Braga. Di kawasan ini terdapat sejumlah pilihan kuliner dengan beragam olahan yang bisa kita pilih sesuai selera dan isi kantong. Mulai dari Western food, Asian food, ataupun menu dengan kearifan lokal. Dari yang bintang lima sampai yang kaki lima juga mangkal di sana.

Berikut list dari beberapa tempat kuliner paling recommended di Jalan Braga:

1. Bacang Panas Braga Pak Halim

📷 Merdeka.com

Kamu bisa menemukan Bacang Panas Braga Pak Halim ini di lorong belakang Apotik Kimia Farma. Meski hanya berjualan menggunakan gerobak sederhana dan bangku plastik, tapi kalau bicara soal rasa, jajanan yang satu sudah ini tak perlu diragukan lagi.

Bacang panas Braga terbuat dari beras yang dibungkus daun kelapa dan direbus hingga padat. Di bagian dalamnya terdapat isian berupa daging sapi cincang. Kemudian sebagai pelengkapnya terdapat pula potongan daging gajih (lemak) sapi dan sambal merah yang bisa kamu tambahkan kalau memang suka pedas. Sempurna bila dimakan panas-panas.
Harganya juga terbilang cukup murah. Hanya dengan Rp.8000 kamu sudah bisa merasakan kelezatan satu bungkus Bacang Panas Braga. Pak Halim buka setiap hari mulai dari jam 6 sore hingga tengah malam.

2. Toko Roti Sumber Hidangan

📷 kompasiana.com

Toko Roti Sumber Hidangan yang berada di Jalan Braga No. 20-22 ini merupakan salah satu kuliner legendaris Jalan Braga yang dulunya merupakan tempat nongkrong muda-mudi dan kalangan atas Belanda. Sudah ada sejak tahun 1929, toko roti ini terkenal dengan berbagai sajian kue kering, roti, dan es krim home made-nya yang masih mempertahankan cita rasa lawas namun dengan harga terjangkau.

Desain interiornya konon tidak pernah berubah. Dengan meja kasir tinggi dari kayu yang berpelitur gelap, mesin penghitung uang jadul, kursi dan meja tempat duduk model lama, serta langit-langit ruangan yang sangat tinggi kita seolah dibawa menembus waktu ke zaman dulu. Bahkan nota pembeliannya pun menggunakan nota model lama bertulis tangan. Klasik.

Uniknya lagi nama pada roti dan kue pada menunya, juga masih menggunakan nama bahasa Belanda. Misalnya croissant, Kattetong, doublet, ananastaart, chocolade rotsjes, kreentenbrood, saucijsbrood, bokkepoot, suikerbol, ontbijtkoek, dan lainnya.

Harga menu roti dan kuenya juga tidak mahal antara Rp 3.500 – Rp 21.500. Sedangkan untuk menu lainnya dihargai antara Rp 10.000 – Rp 30.000.

Toko Roti Sumber Hidangan buka setiap hari Senin-Sabtu pada pukul 9 pagi dan tutup pukul 5 sore.

3. Warung Lima Rasa

📷 instagram @bandungfoodsociety

Setelah Toko Roti Sumber Hidangan, kuliner selanjutnya yang masuk list ini adalah Warung Lima Rasa. Berlokasi di Jalan Braga No. 36, Kota Bandung.

Warung Lima Rasa menawarkan berbagai sajian hidangan nusantara seperti ayam goreng lengkuas, ayam geprek sambal matah, ayam bakar madu, ayam goreng kremes, ayam geprek sambal matah, paru goreng, ati ampela goreng, nasi goreng kampung, nasi goreng tek tek pete, nasi goreng teri, mi ceker merapi, mi iga, mi bakso, dan sebagainya.

Harganya muriah meriah, dari keseluruhan menunya hanya berkisar antara Rp 3.000–Rp 27.000. Warung Lima Rasa buka setiap hari pada pukul 9 pagi sampai jam 11 malam. Khusus hari Jumat dan Sabtu warung ini buka sampai jam 12 malam.

4. Braga Art Cafe

📷 instagram @haniiv_mulyono

Beralamat di Jalan Braga No. 68, Braga, Kota Bandung. Kafe satu ini mengusung konsep vintage sebagai dekorasinya.

Kita bisa menemukan macam-macam varian kopi dari berbagai daerah di Indonesia tersedia di sini. Di Braga Art Cafe tersedia makanan bercita rasa khas western dan lokal. Mulai dari chicken parmigiana yang diolah dari ayam fillet dengan taburan saus keju mozzarella. Sampai nasi goreng ala Sunda yang disajikan dengan sate ayam.

Harga menunya antara Rp 10.000 – Rp 100.000. Pada hari Senin-Jum’at Braga Art Cafe buku pukul 10.30 WIB – 23.00 WIB untuk weekday, sedangkan di hari weekend tutup hingga 02.00 WIB.

5. Braga Permai Resto & Cafe

📷 instagram @bragapermaibandung

Salah satu restoran tertua di Bandung ini terletak di Jalan Braga No. 58. Tempat ini menyediakan beragam menu, mulai dari menu masakan Italia, menu masakan Cina, menu Western, hingga menu lokal. Terdapat juga kue-kue manis dan roti khas Belanda

Di sini rata-rata menunya di atas 50 ribu, bahkan banyak pula yang di atas 100 ribu. Buka setiap hari pukul 9 pagi sampai jam 12 malam.

Waktu Terbaik Berkunjung

📷 lilisenoorita.blogspot.com

Jalan Braga merupakan salah satu destinasi favorit turis Bandung yang ramai sekali ketika hari libur dan weekend sehingga jalanan macet dan hotel penuh. Jadi sebaiknya kalau berkunjung ke Braga, pilih hari biasa saja saat cuaca sedang cerah, jadi kamu bisa puas keliling-keliling jalan braga dengan berjalan kaki.

Kamu juga bisa berjalan-jalan di malam hari, dengan disinari oleh cahaya lampu dari ruko-ruko pinggir jalan yang semakin menambah keromantisan jalan Braga. Terutama saat Braga Culinary Night berlangsung yang diadakan dua minggu sekali setiap malam minggu mulai pukul 6 sore sampai pukul 1 dini hari. Semakin malam semakin ramai.

Akan ada banyak stan penjual makanan yang dibagi jadi tiga kelompok yaitu zona murah, zona sedang dan zona mahal. Dan di beberapa titik dibangun panggung-panggung hiburan yang akan diisi dengan penampilan beberapa komunitas seni dan musik di Bandung.

Fasilitas Tempat Tinggal

📷 instagram @chezbon.hostel

Kalau kamu dari luar kota dan berencana menginap di Braga tapi cuma punya budget yang minim, jangan khawatir. Masih di jalan Braga ada hostel milik Bondan Winarno yang harganya cukup miring, namanya Chez Bon. Disini nanti kamu akan berbagai kamar dengan tamu-tamu lainnya.

Selain itu kamu juga bisa menginap di Aston Braga Hotel & Residence Bandung, Favehotel Braga, atau Gino Feruci Braga Hotel.

Berburu Oleh-Oleh

Setelah jalan-jalan jangan lupa beli oleh-oleh khas Bandung untuk orang di rumah ya. Tak perlu jauh-jauh mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang. Di sepanjang jalan Braga kita bisa menemukan beragam oleh-oleh yang unik dan menarik.

Gerai Iteung

Kamu bisa berkunjung ke gerai Iteung yang terletak di Braga City Walk. Banyak suvenir unik seperti gantungan kunci, hiasan dinding, hingga kaos bisa kamu dapatkan. Kudapan khas kota kembang mulai dari seblak, tempe asin, dan sale pisang juga bisa kamu bawa pulang. Tapi sebelum dibawa pulang, bayar di kasir dulu ya.

Sin Sin Art Shop

Berada di Jalan Braga No 59, terdapat Sin Sin Art Shop yang menjual aneka cinderamata dan souvenir seperti gantungan kunci, patung kayu, wayang, kerajinan perak dan lain sebagainya. Selain souvenir khas Jawa Barat, Sin Sin Art Shop juga menyediakan cinderamata dari daerah lain seperti Bali, Kalimantan, Sumbawa dan Jawa Tengah.

Galeri Tatarah

Tempat hunting oleh-oleh yang selanjutnya adalah Galeri Tatarah di Jalan Braga No. 77 Bandung. Di tempat ini kita bisa belanja aneka lukisan bertema naturalis yang dibuat oleh seniman lokal di Indonesia. Bahkan lukisan yang dijual di sini ada yang dibuat tahun 1920-an loh. Tak cuma lukisan, Galeri Tatarah juga menjual batu permata dari Indonesia dan India.

Rumah Seni Ropih

Sama seperti Galeri Tatarah, Rumah Seni Ropih juga menjual lukisan. Bedanya selain menjual lukisan Rumah Seni Ropih juga menjadi tempat berkumpul para seniman untuk berkarya dan juga bertukar pikiran. Mereka biasanya berkumpul di ruang bawah tanah toko yang beralamat di jalan Braga Nomor 43 ini.

Leave a Comment