Cerita Tentang Cita-Cita: Passion atau Realita?

Waktu kecil pernah dong ditanyain “Kamu nanti kalo udah besar mau jadi apa?”

Kebanyakan anak pasti jawabannya bakal berkisar antara dokter, guru, pilot, atau polisi. Sebagian lainnya jawab pengen jadi youtuber, penyanyi, pembalap, presiden sampai ada juga yang jawab pengen jadi Messi.

Beberapa orang ada yang cita-citanya tercapai. Sebagian lainnya akhirnya melewati jalan yang sama sekali berbeda dengan jawabannya waktu itu. 

Kemarin saya menemukan seorang teman lama di instagram, sebut saja namanya Bambang. Kita pernah sama-sama ikut ekstrakulikuler Majalah Dinding atau yang biasa disebut Mading saat SMA. Tapi saya kaget saat mengetahui ternyata Bambang sekarang sudah menjadi seorang fotografer musik yang cukup sukses. Dia bahkan baru saja menggelar pameran tunggal di salah satu museum ibu kota.

Memang sih, sejak dulu Bambang menyukai dunia fotografi, tapi setahu saya dia kuliah di jurusan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan foto memoto. Saya lalu tak pernah lagi mendengar kabarnya sejak saat itu, sampai kemarin. Siapa yang tahu ternyata dia benar-benar menjadi fotografer seperti impiannya dulu. Masa depan benar-benar se-tak bisa ditebak itu.

Sebenarnya ada banyak orang-orang diluar sana yang pekerjaannya sama dengan cita-citanya. Sesuai dengan passion-nya. Tapi untuk sampai di titik itu tentu tidak mudah, pasti ada banyak halangan dan rintangan yang harus mereka lewati sampai cita-citanya terwujud.

Saya sendiri dari kecil sampai sebesar ini, sudah beberapa kali berganti cita-cita.

Guru

Photo by Congerdesign on Pixabay

Cita-cita pertama saya, sejauh yang bisa  saya ingat, tidak jauh berbeda dari anak-anak lainnya di kelas, yaitu menjadi guru.

Waktu itu saya mengidolakan wali kelas 3 saya yang orangnya cantik, ramah, baik, tapi tegas. Namanya Bu Mugi. Saking sukanya saya sama beliau, saya ingin jadi guru juga. Dimata saya yang masih bocah, titel ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ itu kedengarannya sangat keren. Masih belum memikirkan kalo jadi guru itu amanahnya berat.

Tapi seiring bertambahnya umur, saya mulai mengerti kalo profesi guru ternyata tak begitu cocok untuk saya. Saat ada teman yang bertanya cara untuk mengerjakan sebuah soal, tapi susah untuk mengerti meskipun telah dijelaskan berkali-kali, saya malah frustasi sendiri. Bukannya diajari pelan-pelan biar ngerti, saya maunya langsung kasih tau aja jawabannya. Biar cepat.

Penulis

Photo by Ewan Robertson on Unsplash

Karena merasa tidak cocok, saya memutuskan untuk ganti cita-cita. Saat masuk SMP saya ingin jadi penulis. Sejak kecil saya suka baca buku cerita. Dari mulai Bona si Gajah Berbelalai Panjang di cergam Bobo, Harry Potter, sampai buku-buku sejarah di rak buku milik bapak saya baca.

Akhirnya saya mikir, Kayanya keren ya jadi author, bisa mainin perasaan orang. Dengan sebuah cerita yang bagus pembaca bisa merasa senang, sedih, bingung, takut hanya lewat tulisan. Bisa membuat orang penasaran sama kelanjutan ceritanya. Bisa menginspirasi juga.

Jadi saya mulai belajar coba-coba bikin cerpen. Maksud hati pengennya sih bikin cerita lucu yang bisa bikin orang-orang ketawa. Tapi karena aslinya saya orangnya ga lucu. Cerita lucu saya pun gagal total. Terus saya coba lagi cerita tentang cinta-cintaan (maklum lagi masa puber). Eh, tapi dirasa-rasa kok hasil ceritanya malah picisan banget. Kalo sekarang saya baca lagi tulisan saya waktu itu saya jadi pengen ngakak geli sendiri.

Sampe sekarang kadang-kadang saya masih nulis, tapi sudah ga pernah lagi nyoba-nyoba buat ngarang cerita sendiri. Lebih enak beli ternyata. Cuma dengan uang Rp.80.000 saya sudah bisa ngantongin satu buku berhalaman 500-an  pulang. Ga perlu susah-susah ngarang cerita sendiri.

Arsitek

Photo by Jonas Ferlin on Pexels

Masa-masa SMA, saya sedang senang-senangnya menggambar. Guru Seni Budaya saya waktu itu mengajarkan tentang gambar perspektif, dan saya ingat, saya benar-benar menikmati mengerjakan tugas yang diberikan oleh beliau. Kami menggambar jalanan, bangunan, mendesain rumah.

Rasanya setiap kali menggambar saya jadi rileks. Tidak memikirkan apapun kecuali gambar yang sedang saya buat. Gambar saya terhitung tidak bagus-bagus amat, tapi tidak jelek juga. Jadi saat teman sebangku saya waktu itu (yang gambarnya memang salah satu dari yang paling bagus di kelas) mengajak saya untuk mencoba daftar kuliah jurusan arsitek, saya lumayan tertarik. “Kenapa nggak?” pikir saya.

Dengan polosnya saya daftar SNMPTN dan SBMPTN jurusan Arsitektur. Ga tangggung-tanggung saya memilih UGM sebagai pilihan pertama, dan ITS sebagai pilihan kedua saya dengan jurusan yang sama. Bermodalkan nilai fisika di raport yang mepet-mepet KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dan nilai UN Fisika yang cuman cukup buat lepas dari seragam abu-abu. Alhamdulillah seperti yang bisa ditebak saya tidak lulus masuk perguruan tinggi incaran saya waktu itu.

Menerima hasil tersebut mulai pupuslah cita-cita saya menjadi seorang arsitek.

Jurnalis

Photo by SnapbyThree MY on Unsplash

Setelah menunda satu tahun, saya akhirnya masuk ke sebuah perguruan tinggi swasta di Bekasi jurusan Ilmu Komunikasi. Masih tak jauh dari dunia tulis menulis, kali ini saya mantap ingin menjadi jurnalis. Sambil bekerja di pabrik saya mengikuti kelas karyawan. Namun di semester ketiga saya berhenti kuliah karena terbentur dengan masalah biaya. Saat itu kontrak kerja saya habis, dan keluarga saya sedang membutuhkan uang. Jadi saya terpaksa mengikhlaskan kuliah saya.

Sekarang

Photo by rawpixel.com on Pexels

Saat ini fokus saya tidak lagi terlalu terpaku ingin menjadi apa. Tapi lebih ke bagaimana menjadi sukses dan bisa  mengambil setiap peluang yang bisa saya ambil. Toh saya masih tetap bisa melakukan hal-hal yang saya suka di waktu luang sebagai hobi. Alhamdulillah setiap kesempatan datang sendiri. Pada suatu hari kakak saya menelpon, seperti biasa nanyain kabar, ngobrol-ngobrol, bercanda. Disela sela bercanda dia bilang gini, “Bikin olshop yuk!”
Awalnya sih saya nanggeppinnya cuman bercanda.

Tapi setelah mematikan telepon saya mulai kepikiran, ‘Kenapa ga direalisasikan sekalian aja, ga ada ruginya ini.’. Saat itu juga saya langsung telpon balik kakak saya dan bilang soal niat saya untuk serius,

“Ayo bikin olshop. Tapi bikin sendiri bajunya ya. Jadi handmade gitu.”

Karena saat itu saya masih di bekasi, saya pulang ke rumah dan mulai belajar menjahit. Kebetulan bibi merupakan penjahit yang lumayan terkenal di kampung. Setelah belajar menjahit selama beberapa bulan, sekarang saya mulai bisa menjahit baju-baju dan gamis yang ga neko-neko. Terima kasih dari hati terdalam buat teman-teman terdekat dan keluarga saya yang sudah bersedia dijadiin bahan percobaan praktek saya membuat baju.

Kakak saya kemudian menawarkan buat belajar internet marketing di sebuah pesantren bernama Sintesa yang terletak di Magetan, Jawa Timur, lumayan buat modal ilmu bikin online shop nanti katanya. Sedikit demi sedikit saya mencoba untuk merealisasikannya.

Mungkin sekarang apa yang saya lakukan sama sekali berbeda dengan apa yang saya pikirkan dulu akan saya lakukan saat saya sudah besar. Tapi bukan berarti saya tak bisa sukses dari sini. Mungkin teman-teman kita ada yang sudah sukses lebih dulu. Tapi bukan berarti kita tertinggal. Karena setiap orang punya jalannya masing-masing. Jadi jangan khawatir dan jangan berhenti melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Semangat untuk semua para pengejar mimpi di luar sana.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *